Inner Child dan Luka Masa Lalu, Yuk Kenali dan Pahami!

Inner child merupakan salah satu masalah psikologis yang kerap terjadi pada orang dewasa. Seberapa penting peran mengenali inner child dalam memperbaiki kepribadian seseorang?

Banyak orang tidak menyadari bahwa seiring dengan tumbuh dewasa, mereka belum sepenuhnya mengenal diri mereka sendiri. Banyak orang kemudian mudah tersinggung, marah hingga memutuskan tali silaturahmi. Mungkin Anda pernah sejenak berpikir, mengapa mereka memilih untuk bersikap seperti itu?

Banyak orang dewasa bertumbuh tanpa menyadari adanya luka batin yang dirasakan sejak kecil dalam diri mereka selama pengasuhan orang tua. Hal inilah yang membuat seseorang mudah tersulut emosinya. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak sadar bahwa “anak kecil” dalam diri mereka sedang terluka.

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan inner child? Mengapa inner child dapat mempengaruhi kepribadian seseorang dan bagaimana cara mengatasi permasalahan inner child?

Temukan jawabannya melalui penjelasan lengkapnya berikut ini. 

Apa yang dimaksud dengan Inner Child?

Berdasarkan penjelasan dari Psychology Today, inner child merupakan sekumpulan peristiwa yang Anda alami di masa kecil yang membentuk kepribadian Anda saat ini.

Meski tidak terlihat secara kasat mata, masalah psikologis ini sejatinya merupakan bagian dari diri Anda. Inner child terletak di alam bawah sadar, dimana secara tidak langsung berpengaruh dalam bagaimana Anda menentukan sikap.

Misalnya, ketika seseorang dikelilingi dengan teman sebaya di masa kecilnya, maka nanti di kala dewasa Anda menjadi seseorang yang penuh dengan kasih sayang.

Sebaliknya, jika masa kecil seseorang dipenuhi dengan kekerasan dari orang sekitar, maka pengalaman inilah yang akan menjadi inner child yang juga akan muncul di kemudian hari.

Inner child dapat mempengaruhi seseorang menjadi pribadi yang empati dan bahkan melakukan kekerasan pada kehidupan dewasanya.

Berikut beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan inner child seseorang terluka:

  • Kehilangan orang tua
  • Pernah menjadi korban pelecehan atau kekerasan fisik
  • Pernah ditindas
  • Pernah menjadi korban bencana alam
  • Pernah menjadi pengungsi
  • Pernah mengalami perpisahan dengan keluarga
  • Pernah diabaikan secara emosional

Jika kondisi yang disebutkan diatas tidak ditangani dengan baik, maka perilakunya akan menimbulkan berbagai macam dampak negatif seperti:

  • Mudah melukai diri sendiri
  • Punya perilaku pasif-agresif
  • Punya sikap kasar yang mengarah ke kekerasan

Tanda-tanda batin seseorang terluka

Luka di masa kecil yang belum terselesaikan akan muncul tanpa disadari. Lalu, bagaimana Anda bisa tahu bahwa dalam diri Anda ada luka batin?

  • Kesulitan Mengatur Emosi:Mudah marah, merasa cemas berlebihan, atau terlalu sedih merespons situasi kecil secara tidak proporsional. 
  • Harga Diri Rendah:Sering mengkritik diri sendiri, merasa tidak berharga, tidak dicintai, atau merasa tidak cukup baik. 
  • Perfeksionisme:Dorongan untuk selalu sempurna dan takut melakukan kesalahan, sehingga sering menghabiskan waktu untuk memastikan segala sesuatu sempurna. 
  • Perilaku Tidak Aman:Merasa cemas atau takut akan hal-hal yang tidak pasti, terutama saat menghadapi hal baru. 
  • Kesulitan Menerima Pujian:Merasa tidak pantas menerima pujian atau merasa tidak nyaman ketika dipuji. 

Lima Cara Mengatasi Inner Child yang Terluka

Inner Child

Menyembuhkan inner child memang memakan waktu. Namun, jika Anda dapat mengevaluasi diri, ini merupakan titik awal yang bagus untuk menyembuhkan diri. Berikut lima cara yang dapat membantu mengatasi inner child yang terluka. 

1. Sadari adanya inner child

Untuk memulai proses pemulihan dari luka batin akibat inner child, Anda harus menyadari adanya inner child di dalam diri Anda.

Psikolog asal Amerika Serikat, Kim Egel menjelaskan bahwa dengan menemukan inner child, Anda akan lebih mudah mengeksplorasi diri serta menemukan akar dari permasalahan yang selama ini mengganggu Anda secara psikis. 

“Mengungkap luka batin tersebut dapat membantu Anda memahami dampaknya,” jelas Egel.

Jika Anda merasa sedikit canggung membayangkan Anda membuka diri  pada inner child Anda, cobalah menganggap proses ini sebagai awal dari perjalanan penemuan diri Anda.

2. Dengarkan apa yang dikatakan inner child Anda

Setelah menyadari adanya inner child, tahap selanjutnya adalah belajar mendengarkan  perasaan yang datang.

“Perasaan ini sering muncul di situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan, emosi kuat atau membuka luka lama,” tambah Egel.

Bila Anda dapat melacak perasaan ini kembali ke peristiwa masa kanak-kanak tertentu, Anda mungkin menyadari situasi serupa dalam kehidupan dewasa Anda memicu respons yang sama. 

Seperti misalnya, jika pasangan Anda tiba-tiba membatalkan kencan karena harus bekerja hingga larut malam. Meskipun Anda tahu bahwa pasangan Anda sebenarnya ingin menghabiskan waktu dengan Anda, tapi dalam situasi ini Anda akan tetap merasa kecewa dan frustasi. Lalu, kekecewaan Anda disalurkan melalui cara-cara yang sifatnya kekanak-kanakan seperti membanting pintu atau barang-barang di rumah.

Mempertimbangkan apa yang terjadi melalui perspektif inner child Anda dapat menawarkan beberapa wawasan berharga.

Anda menyadari kebutuhan mendadak pasangan Anda untuk bekerja membuat Anda merasa seperti yang Anda lakukan ketika orang tua Anda membatalkan rencana liburan bahkan pesta ulang tahun Anda, dikarenakan oleh jadwal sibuk mereka.

Dengan mendengarkan inner child Anda yang terluka, ini membantu mengidentifikasi dan memvalidasi masalah kesulitan Anda dalam mengelola emosi. Ini bahkan lebih baik daripada mendorong masalahnya jauh-jauh tanpa menyelesaikannya.

3. Menuliskan pengalaman tersebut dalam sebuah jurnal

Banyak orang menemukan journaling sebagai cara untuk menuangkan pengalaman yang menantang, memicu gejolak emosi atau membingungkan. Jika Anda memiliki jurnal, maka Anda akan mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini.

Sama seperti jurnal yang membantu mengenal pola keseharian Anda sebagai orang dewasa, menulis jurnal melalui sudut pandang inner child dapat mempermudah Anda mengenali pola-pola

Untuk latihan penjurnalan ini, sisihkan diri Anda saat ini untuk saat ini dan salurkan sisi inner child Anda. Coba gunakan foto atau latihan visualisasi singkat untuk membantu mengingat bagaimana perasaan Anda pada usia tertentu yang ingin Anda jelajahi.

4. Bermeditasi

Meditasi merupakan salah satu cara yang bagus untuk memulai membuka diri. 

Ada banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari meditasi untuk menyembuhkan luka batin di masa kecil.

Pertama, meditasi meningkatkan kesadaran diri yang penuh perhatian, mengajari Anda untuk lebih memperhatikan perasaan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian yang lebih besar di sekitar emosi Anda membuatnya lebih mudah untuk diperhatikan ketika situasi tertentu memicu reaksi yang tidak membantu.

Selain itu, meditasi juga membantu Anda menjadi lebih nyaman dengan emosi yang tidak diinginkan.

Anak-anak sering mengalami kesulitan menyebutkan emosi yang tidak nyaman, terutama ketika mereka tidak didorong untuk mengekspresikan diri. Mereka mungkin menekan atau mengubur perasaan ini untuk menghindari hukuman atau mendapatkan pujian dari pengasuh karena “baik” atau mempertahankan kendali.

Meditasi membantu Anda berlatih mengakui dan menerima perasaan apapun yang muncul dalam hidup Anda. Ketika Anda terbiasa menerima emosi yang datang, Anda akan lebih mudah mengekspresikannya dengan cara yang sehat. Ini membantu memvalidasi perasaan anak batin Anda dengan mengirimkan pesan bahwa tidak apa-apa untuk memiliki emosi dan membiarkannya keluar.

5. Konsultasikan masalah inner child Anda pada profesional

Trauma yang terjadi di masa lalu dapat menyebabkan banyak penderitaan di masa kini dan masa yang akan datang. 

Terapis profesional biasanya mengenali bagaimana pengalaman masa kecil dan peristiwa masa lalu lainnya dapat memengaruhi kehidupan, hubungan, dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan. Namun tidak semua jenis terapi dapat membantu mengeksplorasi peristiwa masa lalu atau konsep terkait, seperti inner child.

Jika Anda tertarik untuk melakukan eksplorasi masa lalu Anda dan mengenal inner child Anda, carilah terapis yang berpengalaman di bidang ini. Biasanya, psikoterapi berorientasi psikodinamik dapat menjadi pilihan yang tepat.

Terapi inner child, juga disebut inner child work, secara khusus berfokus pada proses ini, tetapi jenis terapi lain juga dapat menawarkan dukungan. Tentunya, hal ini selalu membantu untuk memberi tahu terapis potensial tentang masalah spesifik yang ingin Anda jelajahi.

Kesimpulan

Inner child merupakan suatu masalah psikologi yang tidak boleh dianggap ringan. Menyembuhkan luka inner child merupakan suatu proses panjang yang sifatnya sangat personal. Tanpa disadari, tiap orang memiliki inner child masing-masing dengan pengalaman yang berbeda-beda. Namun, yang perlu Anda sadari adalah bagaimana hubungan Anda dengan anak kecil yang berada di dalam diri Anda. 

Anda perlu menyadari bahwa inner child di dalam diri Anda perlu Anda terima, perhatikan dan dirangkul.

Baca artikel-artikel menarik lainnya 

7 Manfaat Cuka Apel untuk Kesehatan

Cara Memantau Kesehatan Melalui Teknologi Smartwatch

Praktik Mindfulness dan 5 Manfaatnya Bagi Kesehatan

Leave a Reply

Discover more from Urban Metropolitan | Inspirasi Gaya Hidup & Hiburan Jakarta

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading